A Journey to Tangkuban Parahu

Tangkuban Parahu is located on the western side of the Bandung area. This place can be reached by car or motorbike, and it takes around 1.5 hours from the center area of Bandung. In the noon we depart from Umar’s hotel at 11 AM and arrive at the place at 12.30 PM. The weather today is a bit cloudy and it seems the rains come soon.

As you may know this volcano still active and we have a joke that this volcano can be eruption anytime. But don’t worry, this place quite safe, because there is monitoring post that watching over the volcanic activity 24/7, and also almost all of the crater area covered by the wall to prevent the accident to happen and forbid the visitors to go down to the crater.

This place really famous for the domestic tourist or foreigner that’s why it will be crowded especially on holiday session, of course, no exception today. You can imagine Umar expression when he saw how bizarre the crater is, he seems to enjoy the moment seeing the crater and observing the smoke that comes from some part of the crater, even he didn’t wear masks as the local did because of the smell of sulfur quite strong here. Maybe because it was his first time visiting the volcano mountain.

After quite some time walking around the crater area and taking some pictures, we felt like we were hungry already, let’s find some food. Around this place lots of food stalls that serve some traditional food, such as gorengan, ketan bakar and of course you can find bandrek as well. During the lunch the rains come, we just chilling out and talking about several topics.

And the rains finally stopped, of course, we have to go to the other crater nearby this place. Actually, at Tangkuban Perahu there are 3 biggest craters you can find here, such as Ratu crater, Domas crater, and the one we are going to visit the Omas crater. But you know there are still lots of smaller craters around here if you are lucky enough you can visit all of them for a whole day, but not for us. Really so fortunate for us on the way to the Omas crater is less crowded than the other place, even there are only a few people we meet. After some time, we arrived at the Curug Omas gate but it was closed due to the high activity of the volcano. We don’t want to leave it with empty handed so we decided to continue the journey, not to the Omas crater of course. But there is another place called Sacred Water written on some kind of signboard. We follow the sign and continue walking for another 15 minutes until we arrive at the place. We just take a rest for a while there because there is a cave that quit spooky and then the journey ends. But overall it was really really fun, and it been our pleasure to take Umar to this gorgeous place. Thanks to Rika, Kurnia, Boby, Yanti, Yusuf and also Ridwan that organized this event.

Manusia, Musik, dan Gunung (Part I)

Manusia

Photo by Porapak Apichodilok from Pexels

Suasana Bandung sore hari adalah waktu terbaik untuk bergerak maju, rentang waktu antar siang dan sore berjarak hanya satu jengkal jam matahari.

Stasiun Kiaracondong Bandung, titik awal keberangkatan menuju titik terjauh yang dapat ditempuh kereta api malabar di ujung timur pulau jawa. Tiba lebih awal 30 menit sebelum keberangkatan kereta merupakan sebuah pencapaian cukup mengesankan, terhindar jauh dari drama keberangkatan. Persiapan bisa lebih dari cukup dalam mengumpulkan perbekalan, dan pemanja perut selama diperjalanan 15 jam menuju kota Malang. Dari stasiun ini kami hanya berangkat bertiga, yaitu Mas kur, Aldo dan saya sendiri, ya seharusnya ada satu lagi teman kami sebut saja namanya Agung. Namun harus menyelesaikan urusan kenegaraan terlebih dahulu di Solo, berarti sebenarnya sudah berangkat lebih dulu sehari sebelum kami, dan rencana nya dia akan menyusul kami dari stasiun Solo balapan.

Peluit panjang berbunyi tanda kick off keberangkatan kereta api malabar bergerak kedepan menuju masa depan, karena tak dimungkin lah kereta itu bergerak mundur ke masa lalu. Merupakan sebuah perumpamaan nya yang cukup baik bukan, kereta api adalah sarana transportasi yang akan selalu moving on, walau selalu bergerak ke tempat yang sama namun, tak pernah menatap kebelakang. Lanjut lagi perjalanan ini, stasiun pertama touch down, Cipendey, dimana singgasana matahari mulai beranjak pada wajah terindah berikutnya selain ketika dia baru terbangun.

Continue reading

Tentang Pikiran Manusia [teaser]

Bejana waktu masih terus berdentang, walau kata demi kata masih terus mengalir tanpa tahu kapan harus berhenti, mungkin dimulai dari teaser ini beberapa episode cerita perjalanan ke bromo akan dimulai.

Sejak awal gunung bromo telah menjadi sebuah ciptaan yang digdaya, berakar dari kata brahma dalam agama hindu kemudian terasimilasi kedalam bahasa jawa menjadi bromo yang berarti dewa pencipta. Terhampar pasir sebagai batas dari ke sombongan manusia, berbisik di sela – sela desiran angin.

Perjalanan panjang dan berliku mewarnai sebuah kenangan hari ini, kontras sebuah kesenjangan keaadaan geografi dari purbolinggo, di awali oleh kegersangan, silih berganti menghijau dan mengabu kembali.

 

Terik sinar mentari pada kulminasi hari ini, menghangat dalam peraduaan nya dengan selimut dingin memaparkan sejuta angan diatas kesadaran diri.

Tak bisa lah manusia itu sombong, hanya oleh ilmu yang segenggam pasir, mungkin kah berteriak menyorakan kesombongan.

Sore dalam ingatan dingin, sehelai baju menjadi tembok pembatas antara kulit dan kabut sore sukapura. Berduyun antrian manusia memasuki ampiteater, setiap barisan dituntun berdasarkan kelas sosial dalam kolonialisme musik.

Memerdekakan hati dan telinga demi sebuah kebanggaan yang bernama rasa, musik menjadi jembatan aspirasi tentang kemerdekaan ditengah diskriminasi dan arabphobia.

Kusadari kabut itu kan berlalu, membawa duka serta bekas di hatiku, burung – burung pun terbang tinggi tak berbatas, matahari kan tiba menjemput ku. Bromo – bromo – bromo indah, Bromo – bromo – bromo gunung.


Apalah artinya kedigdayaan sebuah ciptaan tanpa jiwa, tak nampak memang jiwa itu hanya sesekali terbangun, keteraturan dengan interval terjaga setiap 30 tahun. Hanya memori yang dititipkan setiap tahun sebagai penghormatan kala purnama di bulan kesodo.

 

Keindahan tersohor dari bentangan cakrawala hingga batas matahari terbenam, luas harapan terbentang dari padang rumput hingga batas hutan mati.

Pasir lembut kehitaman kadang diam kadang berbisik, ketika berbisik hanya terhanyut hingga terjebak tak punya daya untuk melawan.

Mengelegar energi yang terpaparkan dalam balutan aksen tradisional setiap ujung nya mengabu oleh sentuhan modern, tak gentar nada itu berdenting sampai pada sebuah titik kesetaraan.

 

Cantik itu ber sembunyi dalam gelap, cantik itu sendiri adalah cahaya hingga gelap pun tak sanggup untuk menyembunyikan nya

Cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu adalah coba dan gagal, menyerah bukan lah pilihan yang berada di antaranya.

 

Kereta adalah satuan waktu terpanjang yang kuyakini saat ini

 

Tentang Rasa #1 [reblog]

Saat ini jari masih bisu, dan hanya mampu membuat prolog dari cerita – cerita menarik yang didapat dari beberapa blog yang keren banget. Kali ini dari blog nya Kania Laksita di medium

Menurut ku artikel nya sangat relevan dan begitu menarik di sajikan nya, dan tentunya bisa menjadi bacaan menarik buat temen – temen yang belum gabung di medium tapi pengen dapetin cerita – cerita menarik.

Kasihan rasa. Sering aku mendapati ia dituturkan sebagai tokoh antagonis.
Rasa dianggap menjerumuskan. Menjebak manusia hingga tersesat dan tak berakal lagi.

Lantaran begitu, ia sering dipendam dan dipasung. Ia dianggap berbahaya bila dibiarkan bebas. Maka ekspresi rasa harus selalu dibatasi. Mereka yang sering mengungkapkannya lantas dianggap perasa; sebuah predikat dengan konotasi kurang sedap karena dimaknai sebagai lembek, menye-menye atau rapuh.

Kasihan rasa. Ia tidak dianggap sebagai yang hakiki dari manusia. Ia cenderung dimusuhi dan selalu dibandingkan dengan saudaranya, logika.

Continue reading

Me Before You [movie review]

Seharusnya blog ini ada perkembangan setelah beberapa bulan terakhir mulai produktif, namun beberapa cerita tak kunjung dapat tertuang ke dalam kumpulan kata – kata. Mengingat dalam kondisi otak yang begitu melayang entah dimana sekarang keberadaan nya, sedikit pun tak mampu untuk menuangkan puisi ataupun cerita pendek yang setidaknya membuat kedamaian dalam jiwa. Sebelum prolog ini menjadi sesi curhat, sebaiknya kita mulai saja dengan mencoba membuat review amatir terhadap film yang saat ini menjadi salah satu terfavorit dan entah sudah berapa kali ditonton ulang.

Sebuah film yang ber genre drama romantis, pada awal nya sedikit ragu untuk menonton film ini sampe selesai mengingat genre nya yang cukup melow. Namun cukup cerdik rasanya sang sutradara untuk memilih aktor untuk memerankan tokoh utama di cerita ini. Sebagai catatan film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama Me Before You karangan dari Jojo Moyes dengan tahun terbit 2012, Novel yang meraih The New York Times Best Selling di seluruh penjuru dunia. Jadi sangat wajar jikalau setiap orang menaruh ekspektasi yang cukup tinggi.

Seperti telah di singgung sebelumnya sang sutradara cukup cerdik dalam memilih aktor dan aktris utama dalam ini, dimulai dengan tokoh utama wanita Lousie Clark yang diperankan oleh Emilia Clark yang cukup unik nama belakang tokoh nya sama, dengan aksen british kental dan sungguh tingkah yang cukup polos sungguh sangat mengena dan sesuai dengan tokoh yang di gambarkan dalam buku nya sendiri, cukup menghibur dengan senyum nya yang khas dan gaya British klasik mampu membuat setiap penonton tersenyum gemas dibuatnya. Dengan sikap nya yang pantang menyerah sampai akhir dari perjuangan nya selama enam bulan, walau harus berujung kekecewaan.

Tokoh berikut nya adalah Sam Clafin yang berberan sebagai William Traynor, begitu menjiwai perannya dan tak terbayangkan untuk menjadi seorang yang disabilitas dan sangat membenci dengan kondisi yang telah di alaminya.

Penonton dalam beberpa aspek akan memiliki kesepakatan bahwa chemistry dari kedua tokoh terbangun cukup baik, walau dari beberapa penyedia rating film biasa saja IMDB 7.7, Metacritic 51 % dan Rotten Tomatoes 56%

Namun dari penilaian subjektif penulis menganggap film ini cukup menarik dan bagus, walau sepakat dengan pengkritik dari beberapa sumber di atas bahwa film ini terlalu drama dan fiksi. Bukan hanya itu saja namun cerita yang di bangun begitu membuat penonton frustasi dengan sad ending nya.

 

See more full cast

Nasi goreng cumi cirebon

Jumat agung, tiket bis sudah di pesan dari beberapa hari yang lalu untuk keberangkatan hari ini jumat, 30 maret 2018 untuk tujuan boyolali, meeting point sebelum nanjak lagi ke merbabu. Tubuh di pagi ini serasa sedikit kurang fit, siang hari pun tiba – tiba diare melanda. Namun setelah beberapa saat istirahat tekad pun menjadi bulat, packing pun beberapa jam sebelum berangkat menunu pool bis kramat jati, bisa di bilang persiapan kali ini sungguh apa adanya.

Dan setelah tiba saat nya, gojek pesanan tiba dan siap meluncur ke jl ambon. Grup nanjak nya cukup sepi, praktis komunikasi sangat minim, selain itu hanya itenerary yang cukup jelas dan rinci. Selebihnya harap – harap cemas, maklum anggota nya saja sangat random tidak saling mengenal sama sekali. Dan beberapa kesempatan saja admin grup nya aktif, hingga beberapa percekapan tentang meeting point yang berubah beberapa kali, sampai akhir nya fix juga, bahwa kami akan berkumpul di pertigaan Semarang tepat nya di terminal bawen kurang lebih 1 jam lagi untuk sampai ke Boyolali.

Di waktu yang bersamaan bis mulai merayap di sela – sela antrian panjang kendaraan, sesekali melaju untuk mendahului. Entah sejak kapan mata ini menutup, sampai beberapa buah tahu kemudian, tepat nya saat si bapak pedagang tahu sumedang lalu lalang hingga terbujuk juga untuk mencicipi aroma tahu yang sejak tadi berseliweran menerpa sela – sela hidung.

Tahu sumedang sudah berakhir dengan tragis, sisa di plastik tinggal beberapa buah cabe dan satu yang telah di makan setengah nya. Merasa sulit memejamkan mata kembali, tangan merasa gatal, tapi bukan untuk menggaruk namun untuk menyalakan kembali handphone yang sejak sebelum tertidur dibuat pingsan sementara, dan berita tak mengenakan hati itu pun tiba, jumlah orang berlebih dan tenda tidak akan cukup menampung kami semua, tidung..

Dan ketua grup menyinggung masalah harusnya aku juga membawa tenda, sekilas tidak ada yang aneh dari percakapan ini, namun jikalau dirunut kembali cukup jelas diingatan bahwa sehari sebelumnya sudah ku tawarkan untuk membawa tenda sendiri, namun mereka bersikeras untuk tidak menerima, dengan alasan tenda sudah sangat berlebih.

Yah sudah lah tidak ingin mengambil resiko, diambillah keputusan untuk membatalkan keberangkatan, dan coba bernegosiasi dengan kondektur agar di turunkan di daerah terdekat sebelum masuk tol Kertajati, tanpa pikir panjang kondektur yang tampak tak memiliki kuasa untuk memberhentikan bis yang sedang melaju, hanya mmeberikan instruksi agar loncat saja ketika saat nya tiba, tentu saja itu hanya skenario yang terlintas di kepala.

Dalam kejadian sebenarnya kondektur menyuruh untuk negosiasi secara langsung dengan supir in charge. Percakapan dengan supir pun berlanjut dan pada akhir nya kami sepakat bahwa akan berhenti di daerah yang cukup ramai dan ada pangkalan ojek. Yah apa mau dikata, sudah sangat terlambat untuk mencari pusat keramaian dan pangkalan ojek tengah malam begini, opsi selanjut nya adalah menuju Cirebon dan mencari bis malam untuk ke bandung.

Selanjut nya adalah dimanakah tepatnya akan turun dari bis ini. Opsi pertama adalah palimanan, dimana bukan hanya harus menunggu juga harus bernegosiasi dengan pegawai dari dinas perhubungan yang bertugas, sudah terbanyang bakal sangat ribet situasi yang akan terjadi dan bagaimana kalau ada razia, mana barang yang dibawa adalah beberapa senjata tajam perlengkapan untuk bertahan hidup di gunung.

Kemudian opsi kedua adalah turun di Ciperna dengan sedikit melalui jalur ilegal disisi tol, wah pilihan yang satu ini cukup beresiko, bagaimana tidak bis harus berhenti di tol. Pilihan terbaik saat ini adalah opsi yang kedua, setidaknya kalau bis malam tidak ada, bisa naik kereta saja ke Bandung.

Continue reading

Apa kata bumi ketika dia rindu

Hanya diam dengan wajah tanah mengering

Apa kata hujan ketika dia rindu

Menyelipkan salam pada petir yang gaduh

Apa kata hutan ketika rindu

Semak belukar ditumbuhkan agar merana nya hilang

Apa kata semut ketika rindu

Berjalan menjauhi gula seakan lupa rasa

Apa kata bulan ketika rindu

Menarik awan agar rasa malu nya pudar

Apa kata daun ketika rindu

Menguning dan jatuh saja tanpa berkata – kata

Apa kata bangku ketika rindu

Berdebu dan kusam berusaha untuk tak rapuh

Apa kata mu ketika rindu

Ku curi pandang perempuan hitam tersenyum mungkin untuk saat ini cukup

Entah lusa sepertinya akan bertambah rindu

 

-socionomad

Tegal Panjang Dimataku (part 2)

Prolog:

Sudah sangat lama rasanya potongan cerita ini berada di arsip kurang lebih tiga tahun yang lalu, setelah menyelsaikan beberapa sisa cerita maka sudah saat nya menerbitkan nya agar semua memori kembali mengisi setiap jengkal memori dari kesan pertama mendaki gunung, sejak saat itu kegiatan muncak mulai menjadi racun yang senantiasa menjadi obat kegilaan dalam kehidupan yang fana ini :-). Semoga cerita ini dapat menjadi pembuka tabir dari sebuah lembaran kehidupan yang lain.

Imajinasi ini terus dibangun dan semakin liar, perasaan was-was begitu kental mengingat sejak tadi malam cuaca hingga fajar di upuk timur masih belum bersahabat. Hujan rintik seakan tanpa ujung memaksa kami untuk mulai menyusun beberapa skenario perjalanan.

Journey to the land peace, yah harapan yang sungguh besar mengingat semua asa ini dirajut hanya dari gambar dan beberapa cerita orang-orang yang telah lebih dahulu mencapai tegal panjang, terngiang istilah populer tentang tegal panjang yang hampir semua referensi sepakat menganugrahkan julukan tempat itu sebagai Bukit Teletubies.

08.00 dengan khusyu kami mulai berdoa agar diberi kelancaran selama diperjalananan. Jam bergerak tanpa ada kompromi, langkah panjang terayun menerjang medan. Penyesuain napas sedikit agak lambat, jalan didepan masih terasa datar, sampai tiba pelataran kebun teh. Keputusan untuk mengambil istirahat lebih dini sembari menyesuaikan pengaturan keril.

Tak terlihat tepi dari hamparan hijau ini, hanya sesekali terselingi beberapa jenis sayur mayur. Kesabaran masih terasa tebal dalam keyakinan ini. Tak sedikit pun langkah berkeinginan untuk berkeluh kesah. Ini masih sangat awal namun jalan sudah mulai terlihat berbukit-bukit. Kami sangat dituntut untuk memperhatikan setiap sentimeter medan yang kami lalui, mengingat keadaan jalan sedikit berlumpur dan jika tidak berhati – hati ada kemungkinan untuk terperosok kesaluran irigasi.

Disepanjang jalan kami sesekali bertemu dengan warga sekitar yang beraktifitas dan sebagian besar dari meraka bercocok tanam diladang. Dari kejauhan riuh suara anjing menggonggong. Nyali kami sedikit menciut tat kala tiga ekor anjing yang seakan berkoordinasi menyambut kedatangan kami. Teriakan seorang warga memanggil anjing yang coba mendekati kami “Jablai.. jablai”, teriak ibu itu. Seketika sekumpulan anjing itu terdiam, dari penjelasan ibu itu bahwa anjing tadi hanya ingin menyapa. Hah tak habis pikir. Beberapa warga yang lain sedang sibuk untuk memilah – milah hasil panen kentang diladang. Maka kami memutuskan untuk membeli sedikit kentang dari mereka. “lumayan untuk menambah perbekalan”, pikir kami. Ini merupakan istirahat yang kedua, sambil kami menggali informasi dari para petani akan jalur pendakian ke papandayan.

Dari kejauhan mulai tampak pepohonan yang tinggi menandakan pintu memasuki hutan semakin dekat. Hingga tibalah kami di sebuah pagar terlihat agak sedikit tidak ladzim, pintu pagar itu tidak lah tinggi dan hanya terbuat dari beberapa kayu, namun karena sebelum keberangkatan kami di ingatkan betul akan adab memasuki hutan ini. Kami mulai melaksanakan wejangan dari warga sekitar bahwa sebelum memasuki hutan hendaknya melakukan adzan terlebih dahulu.

Continue reading

HItam purnama dibalik jendela besar malam

Angin sendiri hanya bertiup muram

Bintang tanggal satu demi satu disapu gulita

Tepian jalan disamping pagar besi cenderung basah

Sisa dari candaan hujan untuk perempuan hitam

 

Saat gelap mulai berkuasa

Kupu – kupu dan burung gereja kebingunan mencari jalan pulang

Berputar namun tak bersenandung hingga keluar dari sisi terjauh jendela

Kedua binatang bingung sebagai pengetuk hati

Disaat tirai awan hitam bergerak tak tentu

 

Hitam nya malam tetap misterius

Duduk berhadapan dengan sikap penuh ketus

Senyum itu semakin menjadi misteri

Praktis kedipan lampu lebih memiliki arti

 

Petikan dawai gitar dengan tempo tak pasti

Berbisik pelan dititik nadir imajinasi

Tak bergerak dan hanya diam

Sesaat seakan misteri terkuak

Namun risau ini semakin menyeruak

 

Hati manusia dibolak balikan tuhan

Ingin berkata bibir tetap sungkan

Namun sungguh terpikir semakin bosan

 

Seandainya detak jantung ini bisa berbicara

Semua akan menjadi lebih sederhana

Sungguh hanya gugup dan tersipu

Tak bertatap hari ini hanya tertunduk malu

 

Seadainya angin malam ini mampu untuk berbisik

Titip salam untuk mu perempuan hitam

Bahwa sungguh senyum mu mendikte malam

 

-socionomad

Sumpah kangen muncak

Tepat beberapa musik berlalu, saat Matthew mulai membawakan My Favorite Things. Satu dari sekian hal dari perasaan ini ikut dimainkan sungguh, hingga terasa aroma puncak gunung dan tetesan keringat di sekujur tubuh. Alunan itu terus berlalu dan tampa rasa kasihan membuai setiap sentimeter ingatan indah pada masa itu.

Pada setiap awal pastilah akan selalu ada akhir, hukum yang tidak akan pernah ingkar.

Dan itu pula lah yang berlaku di akhir penampilan Matthew Whitaker dengan disambut standing ovation dari seluruh penonton yang hadir terasa turut mengenyuh dalam nadi, sedangkan darah terpompa begitu kencangnya sehingga hampir – hampir saat akan duduk kembali terasa sedikit sempoyongan.

Belum lagi area festival musik ini yang entah mengapa dengan area yang cukup luas namun tetap saja terasa sangat pengap, coba untuk berjalan mondar – mandir ditengah kerumunan lautan manusia sekedar untuk mencari keheningan walau hanya sesaat.

Semakin lama perasaan ini sungguh sangat menyiksa bahkan setelah semua itu berakhir, kebodohan biasa ditimbulkan dari rasa kenyang yang berlebih. Tetiba perasaan yang sama terjadi kembali, namun dalam wujud yang berbeda, lantas adakah yang bisa menjelasklan kegilaan ini. Keitka berjalan semakin tak tentu arah, berkata kata meracau, bahkan tak sanggup untuk berfikir seakan ada kehampaan yang menganga kembali.

And finally I got that place, gedung lantai 4 yang dimana setiap orang disana terlihat begitu tenang dan jauh dari euforia duniawi.

Saat ini waktu sudah menunjukan magrib jadi mulai mengambil wudhu dan coba mengingat kembali cara untuk berkomunikasi dengan benar dengan Dzat yang maha tinggi. Ditengah itu semua terselip doa kepadanya ‘hamba butuh ketiggian, karena rindu rasanya merasakan kelelahan itu, rindu rasanya berkeluh kesah dalam perjalanan, rindu rasanya mendekap dingin itu, dan juga rindu rasanya bertukar pikiran kebisuan puncak gunung’.

Dalam renungan ini pula terbesit sebuah kutipan dari sang maha guru Soe Hok Gie:

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.

Yah entah mengapa perasaan melankolik itu terasa sangat gaduh, ditengah hingar bingar musik berkumandang hanya berasa hampa, seakan semua itu hanya ilusi dikepala.

Partikel – partikel rindu itu terbentuk dan mulai menggumpal hingga setiap saat bersiap untuk menghujani rasa yang sudah terasa sangat kering.

Bahkan dari rintik kecilnya teringat memori tentang betapa sudah cukup lama sekali tidak muncak, oh iya kalau tidak salah sejak puncak lawu. Namun entah apakah fisik ini masih mampu untuk menopang beban rindu yang sudah menghitam.

Hingga keputusan sudah seirama dengan kilatan petir dan dentuman tajam ketika mencapai daratan, sudah saat nya menjajakan kaki puncak dunia.

Continue reading